Loading...

Jumat, 04 Oktober 2013

DEDUKTIF DAN INDUKTIF


BAB I
PENDAHULUAN

Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar. Dalam penalaran, proposisi dijadikan sebagai dasar penyimpulan yang disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut konklusi (consequence). Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi. Maka kini akan dibahas mengenai proposisi yang lebih terperinci sebagai sebuah landasan dalam menyusun kesimpulan yang dapat diterima oleh akal sehat. Dalam makalah ini juga akan dijelaskan mengenai beberapa macam corak penalaran yang dipakai sebagai alat argumentasi. Secara garis besar makalah ini membahas tentang berpikir induktif dan deduktif. Induktif adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari satu arah atau sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu kesimpulan (inferensi). Proses penalaran yang induktif dapat dibedakan atas bermacam-macam variasi yang akan dijelaskan lebih lanjut yaitu berupa generalisasi, hipotesis dan teori, analogi induktif, kausal, dan sebagainya. Deduktif merupakan suatu proses berpikir (penalaran) yang bertolak dari suatu proposisi yang telah ada menuju kepada proposisi baru yang akan membentuk kesimpulan. Dalam induksi, untuk menarik kesimpulan, maka penulis harus mengumpulkan bahan – bahan atau fakta – fakta terlebih dahulu. Sementara dalam penulisan deduktif penulis tidak perlu mengumpulkan fakta – fakta itu, karena yang diperlukan penulis hanyalah suatu proposisi umum dan proposisi yang bersifat mengidentifikasi suatu peristiwa khusus yang berhubungan dengan proposisi umum tadi. Bila identifikasi yang dilakukan benar dan proposisinya benar,maka dapat diharapkan bahwa kesimpulannya pun akan benar.


BAB II
ISI

II.a       PENJELASAN CARA BERPIKIR DEDUKTIF
Pada dasarnya cara berpikir deduktif adalah metode penelitian secara kuantitatif, yang mana cara berpikir ini berlandaskan hal yang bersifat umum kemudian diuraikan secara terperinci dengan hal-hal yang khusus. Pada umumnya, manusia lebih memahami berpikir secara umum dibandingkan khusus. Dalam teori filsafat telah dibahas mengenai cara berpikir atau bernalar. Contoh, Setiap makhluk hidup membutuhkan makan dan minum untuk hidup. sebagai pernyataannya bahwa:
-          Setiap makhluk hidup membutuhkan makan = Premis Mayor
-          Manusia, hewan, dan tumbuhan adalah makhluk hidup = Premis Minor
-          Maka manusia, tumbuhan, dan hewan  membutuhkan makan dan minum untuk hidup = konklusi

II.b       PENJELASAN CARA BERPIKIR INDUKTIF
Selain dari cara berpikir deduktif, adapula cara berpikir induktif dengan merujuk pada hal yang sifatnya kualitatif. Cara berpikir induktif berawal dari adanya temuan fakta yang sifatnya khusus, kemudian fakta-fakta ini dikembangkan sehingga menjadi sebuah hal yang sifatnya umum untuk disimpulkan. Dengan kata lain masalah yang sifatnya khusus diperluas dengan hal yang umum. Sebagai contoh sederhana yaitu:
-          Di setiap universitas tentu memiliki berbagai spesialisasi seperti spesialis akuntansi manajemen, spesialis akuntansi perpajakan, spesialis audit, spesialis riset operasional, dan spesialis pendidikan akuntansi. Beberapa spesialis tersebut merupakan bagian yang khusus dimiliki oleh jurusan akuntansi.
-          Kemudian seperti kendaraan bermotor , ada merk Honda, Yamaha, Suzuki, Mitshubishi, Mercedez Benz, Ferari, Lamborghini, Lotus, dan lain-lain. Beberapa merk tersebut dapat dikategorikan sebagai kendaraan bermotor  yang bergerak dengan menggunakan mesin.

II.c       KETERKAITAN ANTARA CARA BERPIKIR DEDUKTIF DAN INDUKTIF
Bila bicara adanya 2 hal cara berpikir seperti ini, tentu ada kaitannya antara cara berpikir deduktif dan induktif. Cara berpikir seperti ini dapat kita ketahui salah satunya ketika akan melakukan penelitian atau dugaan sementara (Hipotesis). Setiap penelitian pasti akan mengandung unsur Kuantitatif (Deduktif) dan unsur Kualitatif (Induktif). Unsur tersebut terbentuk berdasarkan pembahasan masalahnya, ketika ada sebuah masalah yang komprehensif, maka akan terbentuk sebuah pemahaman untuk mengkaji masalah tersebut menjadi sistematis, jelas, dan terperinci melalui berbagai studi yang menghasilkan data-data melalui metode kuantitatif. Karena pada akhirnya cara berpikir deduktif mapun induktif menghasilkan sebuah teori-teori baru dengan adanya masalah yang diteliti. Sehingga teori atau ilmu ini dapat bermanfaat. Pembahasan mengenai keterkaitan ini dapat dimisalkan.
-          Contoh kaitannya cara berpikir deduktif-induktif, ketika kita sudah mulai berpikir untuk melakukan sesuatu pada tugas mata kuliah A yaitu pembuatan makalah penelitian, maka terkadang terlintas dengan adanya sebuah gagasan seperti pengaruh eksistensi CSR(Coorporate Social Responsibility) dengan adanya  Fraud, hal ini artinya tanpa memikirkan perkaranya seperti apa, yang kemudian dikembangkan menjadi metode kuantitatif.
-          Begitu juga sebaliknya ketika kita menemukan masalah, katakanlah adanya temuan berupa Rekening Gendut pegawai pajak. Temuan ini merupakan masalah yang perlu dipecahkan dan diteliti melalui sebuah lembaga independent yang turut berpartisipasi dalam penyelesaiaannya. Dari hasil temuan ini nantinya diteliti dengan berbagai metode yang sistematis, akuntabel, transparansi, dan terperinci. Sehingga nantinya menghasilkan sebuah gagasan atau teori atau ilmu baru dari penelitian yang dikaji berdasarkan metode kualitatif.

II.d       JENIS-JENIS CARA BERPIKIR DEDUKTIF DAN INDUKTIF
Cara berpikir Deduktif dan induktif memiliki jenis-jenisnya  
1.    Berpikir secara Ontologi, maksudnya berpikir untuk mendapatkan ilmu yang benar.
2.    Berpikir secara Epistimologi, maksudnya berpikir mengenai asal, sifat, karakter dan jenis ilmu pengetahuan yang ingin didapatkan.
3.    Berpikir secara Aksiologi, maksudnya berpikir bagaimana ilmu tersebut digunakan dan untuk apa, sehingga dapat menghasilkan pemikiran yang positif.
4.    Berpikir secara Silogisme, maksudnya adalah sebuah penarikan kesimpulan melalui deduktif. Yang mana memiliki 2 komponen yang proporsional yaitu berdasarkan pernyataan dan konklusi (kesimpulan).

BAB III
KESIMPULAN

Dalam Pemanfaatan argumentasi dapat digunakan teknik – teknik penalaran dan pengujian data yang ada. Dari dua system yang telah dipaparkan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa bila kita membandingkan penalaran dalam induktif dan penalaran dalam deduktif, maka kesimpulan dari induktif  mempunyai kemungkinan kebenaran, dan benar tidaknya proposisi itu tergantung pada kebenaran dari data yang dipergunakan. Dalam penggunaan metode induktif, untuk membuat suatu kesimpulan penulis harus mengumpulkan data dan fakta yang terkait terlebih dahulu. Semakin banyak dan semakin baik kualitas datanya maka akan semakin komprehensif kesimpulan yang dihasilkan. Sedangkan dalam pembuatan proposisi dengan cara deduktif penulis tidak perlu mengumpulkan fakta-fakta yang ada, penulis hanya perlu suatu proposisi umum atau proposisi yang mampu mengidentifikasi suatu peristiwa khusus secara berkaitan dengan proposisi umum tadi.

REFRENSI
Santoso, Gunawan Budi, dkk. Terampil Berbahasa Indonesia 2. 2009. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
Keraf, Gorys. Argumentasi dan Narasi. 1992. Jakarta: Gramedia.
W.J.S.Poerwadarminta. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2006. Jakarta: Balai Pustaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar